Tulisan ini mengulas mengenai krisis yang dialami oleh Dow Corning, yaitu
perusahaan yang bergerak pada bidang implan payudara silikon. Jika kita tahu
tentang kasus Tylenol, maka kedua kasus ini sama-sama berurusan dengan masalah
kesehatan dan keselamatan publiknya. Yang menjadikannya berbeda adalah mengenai
penanganan kasusnya.
Dow
Corning pertama kali mendapat gugatan dari publik pada tahun 1977. Namun,
dampak dari gugatan tersebut baru terasa sekitar tahun 1980an. Masalah krisis
ini diawali oleh gugatan yang menyatakan bahwa Dow Corning memproduksi dan
memasarkan implan silikon yang tidak aman, meskipun sebenarnya perusahaan sudah
lebih dulu tahu bahwa hasil produksi mereka tidak aman bagi perempuan. Sudah
lebih dari 20 penelitian gagal membuktikan hubungan antara implan silikon
dengan penyakit auto-imun yang diduga menjadi penyebab masalah kesehatan. Oleh karena
itu, publik tidak memiliki bukti yang kuat untuk mendukung dugaannya. Sementara
Dow Corning memiliki alibi untuk memperta
hankan perusahaannya walaupun publik sudah meminta perusahaan itu meninggalkan bisnis implan payudara.
hankan perusahaannya walaupun publik sudah meminta perusahaan itu meninggalkan bisnis implan payudara.
Pengaruh krisis ini menimpa Dow Corning dengan cepat dan
keras. Kasus Dow Corning secara terus-menerus mendapat tuntutan dari publik dan
didukung oleh media yang menyuarakan pandangan negatif. Pada tahun 1997, saat
wawancara dengan The Public Relation Strategic, Dick Hazelton mengatakan bahwa
krisis rencana yang seperti yang dialami oleh Dow Corning ini diliputi oleh
fakta dan keadaan. Elemen dari rencana itu harus terbuka, menyertakan fakta
ilmiah, dan menaruh kepercayaan kepada public relation untuk tidak
menyembunyikan apapun.
Kasus Dow Corning dibagi menjadi tiga periode. Periode
pertama adalah pada saat Dow Corning melakukan beberapa kesalahan dalam
menyikapi kasusnya. Sikap perusahaan itu menyebabkan kegagalan hubungan mereka
dengan pubiknya, termasuk dengan ahli bedah plastik yang selama ini bekerja
sama dengannya. Selain itu, Dow corning bergantung pada bukti ilmiah miliknya
untuk melakukan pertahanan dalam menanggapi pernyataan negatif publik.
Perusahaan memilih bersikap tertutup kepada media. Mereka memberikan juru bicara
perusahaan yang berbeda-beda sehingga berbeda-beda pula informasi yang
disampaikan. Perusahaan juga tidak melakukan tindakan pencitraan. Oleh karena
itu pandangan publik terhadap perusahaan semakin negatif.
Dua publik besar Dow Corning, yaitu media dan Food and
Drug Administration tidak mendapat pelayanan yang baik dari perusahaan. Kemudian
dua publik ini melakukan tindakan yang merusak citra perusahaan. FDA membuat
pernyataan bahwa implan payudara tidak aman sehingga pernyataan tersebut
membuat citra Dow Corning semakin terpuruk. Untuk mengaihkan perhatian publik,
Dow Corning menyerang FDA supaya mencabut pernyataannya. Dalam rangka melakukan
rencana itu, Dow Corning menyewa pengacara yang kuat. Upaya ini diharapkan
dapat mengembalikan citra perusahaan. Pada saat itu perusahaan ini tidak
bersedia memberikan informasi kepada media dan juga menolak untuk ditanya. Hal
itu menyebabkan meningkatnya liputan media yang negatif.
Tahap kedua terjadi sekitar bulan September 1991 sampai
bulan Februari 1992. Dow Corning terus menyerang FDA dan menyangkal tuduhan
implan payudara silikon tidak aman. Ketika FDA memutuskan menunda kasus implan
payudara, Dow Corning bersedia untuk melakukan berbagai pengujian pada
produknya untuk meyakinkan publik kembali. Perusahaan implan payudara ini
mengangkat Keith McKennon sebagai CEO perusahaan dalam rangka memperbaiki citra
peusahaan. Keith menggunakan pihak ketiga untuk menyelidiki implan payudara,
membuat hotline bagi publik yang
berurusan dengan implan payudara. Tetapi, FDA menutup layanan hotline itu dengan dalih Dow Corning
memberikan informasi yang salah.
Februari 1992 masuk pada tahap terakhir bagi perusahaan,
dimana pada masa ini perusahaan menerima Dow Cornic akhirnya meninggalakan
bisnis implan payudara dan mengakui kebangkrutannya. Strategi yang mereka pakai
tidak mampu mencapai tujuan mereka merubah pandangan publik terhadapa
perusahaan. Mereka justru menciptakan tindakan yang menyebabkan kehancuran di
bawah tekanan FDA dan media massa.
Kasus Dow Corning ini mengingatkan kita pentingnya fungsi
public relation dan perlunya sebuah organisasi menerapkan keterbukaan. Sikap
yang diambil Dow Corning sudah tidak tepat sejak awal. Dow Corning hanya
menyangkal tuduhan dan berpegang pada data ilmiah yang dimiliki, tanpa melihat
fakta disekelilingnya. Perusahaan itu tidak mau membuka diri terhadap publik
dan terlambat memberikan klarifikasi. Juru bicara yang diberikan juga
berbeda-beda sehingga menimbulkan image ketidakserasian
paham akan kasus yang terjadi di dalam perusahaannya. Selain itu, kesalahan Dow
Corning yang terlihat jelas adalah ketika ia dihadapkan pada tuduhan, ia tidak
segera berupaya untuk mengembalikan citra perusahaan. Ia justru sibuk menyerang
FDA untuk mencabut pernyataannya. Hal tersebut mengundang media massa untuk
memberitakan kasus ini dari sudut yang lebih negatif sehingga menyebabkan
anjloknya citra perusahaan.
Kriyantono (2012, h. 9) menuliskan tujuan public relation
untuk membangun citra korporat (corporate image). Oleh karena itu, pada saat
seperti ini peran public relation sangat dibutuhkan dalam rangka mengembalikan
citra perusahaan. Ketika dihadapkan pada situasi ini praktisi public relation
harus mendesak perusahaan untuk tetap bersikap terbuka tanpa merahasiakan
apapun dari publik, termasuk media massa. Public relation bertanggung jawab
untuk bisa menstabilkan keadaan antara perusahaan dengan publiknya karena
publik relation berfungsi sebagai pemelihara komunikasi yang baik antara
perusahaan dengan publiknya (Kriyantono, 2012, h. 21). Public relation memiliki
otoritas untuk segera mencari tahu mengapa isu-isu itu muncul dan dari mana isu
tersebut berasal. Selain itu diharapkan segera melakukan riset yang mendalam
terhadap publiknya, apakah ada masalah atau keluhan selama publik menggunakan
produk dari perusahaan tersebut. Jika riset telah dilakukan, prakisi public
relation dapat menarik kesimpulan apakah produk yang dihasilkan oleh
perusahaannya masih layak produksi atau tidak, sehingga dapat segera menentukan
langkah demi kelangsungan karir perusahaan.
Daftar Pustaka
-
LaPlant,
Katie. (1999). The Dow Corning crisis: A benchmark, 44 (2), 32.
-
Kriyantono,
Rachmat. (2012). Public Relation Writing.
Jakarta: Kencana.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar