Komunikasi sebenarnya
telah ada sejak kehidupan di dunia baru dimulai. Banyak ilmuwan sosial telah
mengkaji komunikasi dalam kehidupan manusia walaupun komunikasi masih di
masukkan dalam ilmu-ilmu lain seperti politik dan sosiologi. Baru sekitar abad
20 komunikasi diteliti lebih dalam oleh pakar-pakar komunikasi Eropa. Seperti
ilmu-ilmu yang lain, untuk menjadi suatu ilmu, komunikasi harus memenuhi asumsi
filsafat ilmu, yaitu ontologi, epistimologi, dan aksiologi. Ini me
rupakan pengelompokan metateori. Metateori adalah bidang yang mencoba menggambarkan dan menjelaskan persamaan dan perbedaan antar teori.
rupakan pengelompokan metateori. Metateori adalah bidang yang mencoba menggambarkan dan menjelaskan persamaan dan perbedaan antar teori.
Ontologi adalah sebuah
filosofi yang berhadapan dengan sifat makhluk hidup. Ontologi dari ilmu
komunikasi berpusat pada sifat interaksi sosial manusia. Pada aspek ontologis,
manusia dipandang sebagai individu yang statis, yang selalu bergerak dan
merencanakan pergerakannya itu untuk mencapai tujuan masa depan. Manusia tidak
dapat terlepas dari individu lainnya sehingga tindakan individu dapat berasal
dari instingnya sendiri maupun dari reaksi atas tindakan orang lain yang berpengaruh
pada diri individu. Dalam komunikasi, individu lebih mempercayai pandangan
bahwa perilaku komunikasi dipengaruhi oleh struktur universal maupun
situasional.
Epistimologi adalah cabang filsafat yang mempelajari pengetahuan atau bagaimana orang-orang mengetahui apa yang mereka ketahui. Singkatnya, epistimologi mencari jawaban tentang bagaimana orang mendapat pengetahuan. Epistimologi membicarakan proses dalam pencarian ilmu. Seperti ilmu-ilmu yang lain ilmu komunikasi didapat dari pengalaman-pengalaman individu. Tetapi menurut buku Littlejohn, masih mungkin ada pengetahuan yang yang muncul karena sifat dasar kita, seperti kemampuan untuk berpikir dan merasakan. Pada epistimologi komunikasi dipandang sebagai pengetahuan yang selalu berubah-ubah karena teori komunikasi terus berkembang dan berubah-ubah seiring dengan perkembangan jaman.
Cabang filsafat yang ketiga adalah aksiologi, yaitu yang berhubungan dengan penelitian tentang nilai-nilai. Ada dua hal yang menjadi sorotan aksiologi, yaitu pencarian suatu pengetahuan yang mereka percaya sebagai bebas nilai atau yang sadar nilai, serta menjadikan usaha yang dilakukan untuk mengarahkan nilai-nilai tersebut ke arah yang positif. Ketiga kajian filsafat pada ilmu komunikasi melahirkan kajian tentang bagaimana carapandang ilmuwan terhadap realitas yang dikaji, yaitu pendekatan klasik dan subjektif.
Epistimologi adalah cabang filsafat yang mempelajari pengetahuan atau bagaimana orang-orang mengetahui apa yang mereka ketahui. Singkatnya, epistimologi mencari jawaban tentang bagaimana orang mendapat pengetahuan. Epistimologi membicarakan proses dalam pencarian ilmu. Seperti ilmu-ilmu yang lain ilmu komunikasi didapat dari pengalaman-pengalaman individu. Tetapi menurut buku Littlejohn, masih mungkin ada pengetahuan yang yang muncul karena sifat dasar kita, seperti kemampuan untuk berpikir dan merasakan. Pada epistimologi komunikasi dipandang sebagai pengetahuan yang selalu berubah-ubah karena teori komunikasi terus berkembang dan berubah-ubah seiring dengan perkembangan jaman.
Cabang filsafat yang ketiga adalah aksiologi, yaitu yang berhubungan dengan penelitian tentang nilai-nilai. Ada dua hal yang menjadi sorotan aksiologi, yaitu pencarian suatu pengetahuan yang mereka percaya sebagai bebas nilai atau yang sadar nilai, serta menjadikan usaha yang dilakukan untuk mengarahkan nilai-nilai tersebut ke arah yang positif. Ketiga kajian filsafat pada ilmu komunikasi melahirkan kajian tentang bagaimana carapandang ilmuwan terhadap realitas yang dikaji, yaitu pendekatan klasik dan subjektif.
Setiap ilmu memiliki
teori. Teori adalah abstraksi tentang realitas, bersifat sistematis dan
dihasilkan dari simbol atau bahasa. Dengan teori kita dapat menjelaskan suatu
kejadian, menafsirkan kejadian yang akan datang, menciptakan hal tertentu yang
dapat membuat perubahan sosial, dan melakukan perubahan secara radikal untuk
menunjukkan kesenjangan dari kebijakan sosial yang ada. Menuliskan teori
komunikasi dilihat dari tiga hal, yaitu level of observation, intentionality,
normative judgement. Level of observation merupakan penulisan teori yang
terlalu abstrak karena kurangnya pengamatan. Intentionality adalah penulisan
teori yang mengharuskan adanya maksud dan tujuan dari komunikasi. Terakhir
yaitu normative judgement, yaitu penulisan mengenai aspekk efektifitas yang
diterima oleh komunikan. Pada hakikatnya ilmu komunikasi berbicara mengenai
pesan, bagaimana komunikator merancang pesan dan bagaimana pesan tersebut
disampaikan.
Teori komunikasi mengenal
7 tradisi yang antara satu tradisi dan tradisi lainnya saling terkait.
1. Tradisi semiotika adalah tradisi yang paling berkaitan dengan komunikasi karena tradisi ini berhubungan antara tanda dan makna. Konsep dasar yang menyatukan tradisi ini adalah tanda yang didefinisikan sebagai stimulus yang menandakana atau menunjukkan beberapa kondisi lain. Konsep dasar yang kedua adalah simbol yang biasanya menandakan tanda yang kompleks dengan banyak arti, termasuk arti yang sangat khusus.
2. Tradisi fenomenologi mengkaji apa yang berkaitan dengan komunikasi, memberi perhatian pada kritik komunikasi. Fenomenologi merupakan cara yang digunakan individu untuk memahami dunia melalui pengalaman langsung. Tiga prinsip dasar fenomenologi yaitu yang pertama pengetahuan ditemukan secara langsung dalam pengalaman sadar. Kedua, makna benda terdiri atas kekuatan benda dalam kehidupan seseorang. Ketiga adalah bahwa bahasa merupakan alat yang digunakan untuk mendefinisikan makna.
3. Tradisi sibernetika merupakan tradisi yang memandang komunikasi adalah fenomena pemrosesan informasi. Teori dalam sibernetika menjelaskan bagaimana proses fisik, biologis, sosial, dan perilaku bekerja.
4. Tradisi social psychology mencoba menjelaskan komunikasi merupakan proses psoikologis yang melibatkan proses mental dalam individu.
5. Tradisi sosiokultural terhadap teori komunikasi menunjukkan cara pemahaman kita terhadap makna, norma, peran, dan peraturan yang dijalankan secara interaktif dalam komunikasi. Teori-teori tersebut menjelaskan bahwa realitas bukanlah seperangkat susunan di luar kita, tetapi dibentuk melalui proses interaksi di dalam kelompok, komunitas, dan budaya. Tradisi sosiokultural memandang komunikasi sebagai sarana perekat, sarana penghubug antarkomponen yang ada di dalam masyarakat.
6. Tradisi kritis adalah tradisi komunikasi yang menghubungkan komunikasi dengan dengan power atau kekuasaan. Mengkritik perilaku komunikasi yang menggunakan komunikasi sebagai alat untuk mendominasi, menguasai pihak lain, dan untuk mengukuhkan kekuasaan. Teori ini berusaha membela dan menyadarkan pihak yang dirugikan atas perilaku dominasi.
7. Tradisi retorik mengulas bagaimana menggunakan lambang atau simbol untuk mencapai tujuan tertentu. Tradisi retorik mencangkup segala cara manusia dalam menggunakan simbol untuk mempengaruhi lingkungan di sekitarnya dan untuk membangun dunia tempat mereka tinggal.
1. Tradisi semiotika adalah tradisi yang paling berkaitan dengan komunikasi karena tradisi ini berhubungan antara tanda dan makna. Konsep dasar yang menyatukan tradisi ini adalah tanda yang didefinisikan sebagai stimulus yang menandakana atau menunjukkan beberapa kondisi lain. Konsep dasar yang kedua adalah simbol yang biasanya menandakan tanda yang kompleks dengan banyak arti, termasuk arti yang sangat khusus.
2. Tradisi fenomenologi mengkaji apa yang berkaitan dengan komunikasi, memberi perhatian pada kritik komunikasi. Fenomenologi merupakan cara yang digunakan individu untuk memahami dunia melalui pengalaman langsung. Tiga prinsip dasar fenomenologi yaitu yang pertama pengetahuan ditemukan secara langsung dalam pengalaman sadar. Kedua, makna benda terdiri atas kekuatan benda dalam kehidupan seseorang. Ketiga adalah bahwa bahasa merupakan alat yang digunakan untuk mendefinisikan makna.
3. Tradisi sibernetika merupakan tradisi yang memandang komunikasi adalah fenomena pemrosesan informasi. Teori dalam sibernetika menjelaskan bagaimana proses fisik, biologis, sosial, dan perilaku bekerja.
4. Tradisi social psychology mencoba menjelaskan komunikasi merupakan proses psoikologis yang melibatkan proses mental dalam individu.
5. Tradisi sosiokultural terhadap teori komunikasi menunjukkan cara pemahaman kita terhadap makna, norma, peran, dan peraturan yang dijalankan secara interaktif dalam komunikasi. Teori-teori tersebut menjelaskan bahwa realitas bukanlah seperangkat susunan di luar kita, tetapi dibentuk melalui proses interaksi di dalam kelompok, komunitas, dan budaya. Tradisi sosiokultural memandang komunikasi sebagai sarana perekat, sarana penghubug antarkomponen yang ada di dalam masyarakat.
6. Tradisi kritis adalah tradisi komunikasi yang menghubungkan komunikasi dengan dengan power atau kekuasaan. Mengkritik perilaku komunikasi yang menggunakan komunikasi sebagai alat untuk mendominasi, menguasai pihak lain, dan untuk mengukuhkan kekuasaan. Teori ini berusaha membela dan menyadarkan pihak yang dirugikan atas perilaku dominasi.
7. Tradisi retorik mengulas bagaimana menggunakan lambang atau simbol untuk mencapai tujuan tertentu. Tradisi retorik mencangkup segala cara manusia dalam menggunakan simbol untuk mempengaruhi lingkungan di sekitarnya dan untuk membangun dunia tempat mereka tinggal.
Secara keseluruhan, buku Theories of Human Communication menjawab pertanyaan kita mengenai teori-teori dasar komunikasi. Buku
ini juga telah menjelaskan mengenai pembentukan komunikasi menjadi suatu ilmu
dari sudut pandang filsafat ilmu pengetahuan. Dengan demikian kita memahami
ilmu komunikasi ada berawal dari rasa ketertarikan para filsuf untuk mengkaji
proses interaksi dalam masyarakat, bagaimana manusia menjalani kesehariannya
dan berhubungan dengan orang-orang di sekitarnya.Komunikasi juga telah memenuhi
kriteria untuk menjadi suatu ilmu. Terlihat dari komunikasi memiliki objek
kajian, yaitu masyarakat dan interaksi yang terjadi di dalamnya. Komunikasi
juga telah memiliki teori yang ada karena telah dilakukan peneliian yang
sistematis dan dapat diuji kebenarannya melalui penellitian-penelitian
selanjutnya untuk disesuaikan dengan perkembangan jaman. Hal ini menunjukkan
bahwa ilmu komunikasi bersifat dinamis. Pembicaraan mengenai syarat-syarat ilmu
tersebut juga telah dijelaskan dalam buku-buku filsafat seperti buku Filsafat
Ilmu dan Dasar logika.
Daftar Pustaka
-
Littlejohn, Stephen W. (2002). Theories of Human Communication. California: Wadsworth.
-
Littlejohn, S. W., & Foss, K. A. (2009). Teori Komunikasi : Theories of Human Communication. Jakarta:
Salemba Humanika.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar