Menulis lagi setelah sekian lama mencari kesibukan yang ternyata gak dapat kesibukan selain #olvielfahmiwedprep <= alasan. No. Menulis lagi setelah sekian lama mencari kedamaian hati, pikiran akibat kufur nikmat. astaghfirullah....
FYI, seperti tulisan sebelum-sebelumnya, anggap saja tulisan ini hanya sebuah curhatan remaja yang memasuki usia dewasa.
talk about "parenting"...
tidak ada keluarga yang tanpa masalah. Tidak ada keluarga yang perjalanannya muluuuus begitu saja. Setiap keluarga pasti ada yang namanya pasang-surut masalah, dari siapapun. Begitu juga dengan keluarga saya. Hmmm, bukan berarti saya sudah bekeluarga lho ya... Saya masih ikut KK papa saya, hohoo. Biar gampangnya saja lah yaa.
Keluarga saya termasuk salah satu (mungkin) dari sekian keluarga yang mengalami banyak sekali masalah. Terlebih beberapa tahun belakangan ini. Singkat cerita, Mas satu-satunya kena salah pergaulan. Dia mengalami "masa hitam". Berawal dari keinginan dia untuk mandiri, lalu mendapat tawaran bisnis dari rekan barunya. Mas harus memberikan investasi sekian juta untuk bisnis itu. Kompensasinya, dia akan mendapatkan keuntungan yang jauh lebih banyak dari modal yang dia keluarkan. Tapi keadaannya Mas itu mudah sekali terpengaruh dan parahnya belum berpenghasilan sendiri. Itulah pokok permasalahannya.
Demi mencapai cita-cita mandirinya, dia meminjam uang ke rekannya. Ekspektasinya, dia akan mengembalikan uang itu setelah dia mendapatkan keuntungan dari bisnisnya. Bagaimana dengan realita? yap. Mas ditipu. Keuntungan bisnis hanya fana. Bermaksud menyelesaikan urusan finansial, dia malah terjerat black hole. Gali lubang tutup lubang, begitu seterusnya.
"Kok bisa? Kemana aja mama papa sampe gak tau masalah ini?". Mama dan Papa saya adalah orang yang selalu mempercayai anak-anaknya. Papa selalu berpesan, lakukan yang baik-baik, bergaullah dengan siapa saja, asalkan satu, jaga diri dan jangan menjual aqidah. Sementara itu, saat permasalahan ini muncul, papa sedang sibuk mengurus proyek yang membuatnya lebih sering ke luar kota, sedangkan mama sih mode percaya. Yaa begitulah sodara.. hiks.
Next,
Adik lelaki yang pallling saya sayangi. Adik yang selalu saya dan Mbak banggakan, apapun karya dia. Adik yang selalu saya dan Mbak perhatikan agar dia bisa lebih sukses, lebih bahagia dari Mbak-mbak dan Masnya. Sayangnya, dia hanya adik sepupu sehingga saya dan Mbak tidak memiliki kuasa lebih untuk mengurus banyak hal tentangnya. Ditambah saya dan Mbak yang lebih banyak tinggal di perantauan timbang di kota sendiri.
Saya menganggap Adek (begitu saya memanggilnya) yang saat ini berada pada usia middle-late childhood masih rentan sekali dan amat sangat butuh perhatian lebih seperti anak pada periode emas. Kenapa? Bukan karena dia manja lho sodara-sodara. Melainkan dia hanya mendapat satu sisi asuhan, Mama. Jujur saja, ayahnya pergi saat dia masih usia sekitar +/- 1 tahun. Sehingga dia tidak merasakan asuhan, didikan seorang ayah. Selain sifatnya yang mudah terpengaruh, entah kenapa, dia adalah anak yang lebih memilih memendam perasaannya. Tapi sebagai kakak yang peka (ceillehhh!) saya beberapa kali paham apa yang dia rasa dan harapkan.
Hidup hanya dengan Mama (saya panggil Tante), dia dituntut untuk bisa 'survive' dari sifat sang mama yang keras dan orang jawa bilang sak karepe dewe, ora biso diomongi. Kurang perhatian, sering berkata yang tidak semestinya dikatakan pada anak, jika marah emosinya meledak "BBBAANNNGGGG!!!!!!!"
(aduh saya kena UU ITE gak ya kalo ngelanjutin ini.. hmm dilema. tapi kan maksud saya cuma untuk pembelajaran saja, untuk refleksi diri. aduduu *galau*).
Hasemeleh. Piye iki. intinya... Adek semakin hari semakin merasa kehilangan kepercayaan diri. Dia yang dulunya berprestasi, beberapa waktu belakangan tidak lagi semangat mengikuti berbagai kegiatan lomba. Dia menjadi anak yang pendiam, seperti takut, dan sering kali mencari kebahagiaan dengan jalannya, tanpa arahan dari yang lebih dewasa.
Masalah mulai muncul. Saya pun kurang paham apa penyebabnya. Belum lama ini, Adek membuat masalah yang membuat saya sangattttt kecewa. Mirip dikecewain sama pacar. Tapi kasusnya Adek lebih serius karena menyangkut masa depannya.
Dua kasus nyata yang jelas saya saksikan sendiri membuat saya semakin sadar pentingnya sosok Ibu cerdas, orang tua bijak, waktu bersama, komunikasi, dan sebagainya dan sebagainya dan sebagainya. Semakin gemes pengen sekali berkomentar, sesibuk apapun kita, luangkan waktu untuk anak, adek, saudara. Anak bagaikan layang-layang yang rentan putus jika ditarik terlalu kuat dan juga mengkhawatirkan jika kita terlalu banyak mengulur. Sigmund freud mengenalkan id, ego, dan superego yang ada dalam diri kita. Maka, bagaimana kita pandai mengatur ego, kesampingkan urusan yang tidak penting, membagi waktu dan tugas dengan cerdas, komunikasi yang baik, berikan pujian, dan perhatian. Perhatikan dengan siapa dia bergaul, bagaimana belajarnya, apa yang sedang menjadi minatnya, jam berapa dia harus belajar, istirahat, atau bermain. Kita perhatikan dengan detail apa yang menyangkut dirinya. Dukung jika positif, ingatkan jika salah.
"Lengah" adalah dosa yang sering tidak kita sadari saat anak atau adik-adik kita beranjak dewasa. Sering kali kita merasa semua baik-baik saja. Nyatanya? Apakah iya masih baik-baik saja?
Siapa orang tua yang tidak kecewa melihat anaknya melakukan kesalahan. Hampir semua pasti kecewa, sangat. Marah dengan cerdas, marahlah dengan elegan. Sudah cukup kita mencela anak yang telah berbuat kesalahan. Itu bukan hal yang dibutuhkan. Tahan diri kita agar tidak selalu memberikan perintah, terlebih berbicara dengan nada tinggi dan keras. Karena sungguh, itu akan membuat anak tumbuh dengan watak keras pula. Simpan energi kita. Stop membicarakan materi yang telah kita habiskan untuknya.
Saya belum merasakan menjadi orang tua. Saya hanya anak bawang tanpa pengalaman. Tapi saya punya cita-cita, jika nanti saya dalam kondisi marah dan kecewa pada anak saya, semoga saya tetap menjadi ibu yang cerdas. Yang tegas, tapi tidak mematahkan. Semoga..
Saya hanya mahasiswi dengan keresahan melihat senyum anak yang tersembunyi dibalik ketakutan. Saya resah dengan masih banyaknya permasalahan serupa. Diantara semua masalah-masalah itu, saya masih harus banyak belajar untuk kelak menjadi Ibu yang baik.
*Correct me if I'm wrong
Terima kasih, :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar