Ternyata sudah lama blog ini berdiam diri, bertapa menunggu pagi. Eh apasih -_-
Baiklah. Postingan pertama ini --setelah saya secara tidak sadar memilih hiatus-- singkat saja..
Mungkin ini jawaban dari postingan galau yang telah saya posting sebelumnya. Yang mana? Dicari yaaa, di baca... :D
Jadi gini..
Setiap dari kita pasti pernah, walaupun cuma sekali, berpikir bahwa kehidupan orang lain itu lebih menyenangkan, lebih enak, lebih indah.
Kita pasti pernah menginginkan kehidupan seperti mereka namun kita tidak tau bagaimana cara mencapainya. Dan orang lain pun, (mungkin) juga melihat hidup kita lebih menyenangkan dari mereka.
Tapi, satu hal yang harus kita pahami lagi.. Bahwa setiap dari kita punya porsi kehidupan masing-masing. Setiap diri kita punya keunikan masing-masing. Setiap dari kita adalah 'berbeda'. Kita terlihat menyenangkan dengan cara kita sendiri.
Pepatah bilang, "rumput tetangga pasti lebih hijau"
Ya, itu yang kita lihat.
Kita terlalu sibuk melihat rumput tetangga yang selalu dirawat setiap harinya. Hingga kita lupa dengan rumput di halaman rumah sendiri yang mulai mengering.
Rabu, 23 Maret 2016
Minggu, 07 Februari 2016
Gundam
Terinspirasi dari gundamnya Alan sama Werda.
Ceritanya, mereka seneng banget koleksi gundam. Sudah jadi hobi lebih tepatnya. Rela perjalanan jauh cuma buat gundam. Lalu melalui mainan itu, mereka berekspresi. Hunting foto dan modelnya si gundam dengan segala posenya.
Gundam duduk di sisi jendela kamar, gundam mainan salju, tidur-tidur di atas salju, perang antar gundam, dan sebagainya. Hari ini, Alan baru saja mengunggah foto gundamnya lagi. 2 foto dengan setting a la 'mendaki'. 1 foto bercerita si gundam lagi tiduran di atas tanah, seakan menatap ke atas. Terlihat santai.
Satunya lagi berdiri di atas tanah, dengan gaya seperti orang yang menatap jauh ke depan.
Minggu, 31 Januari 2016
Ekspresi
Dalam ilmu komunikasi dan ilmu kehidupan kita kenal istilah front stage dan back stage, bahwa hidup itu seperti di atas panggung sandiwara. Apa yang kita tampilkan pada semua orang belum tentu sama dengan siapa kita sebenarnya, dramaturgi.
Begitulah hidup.. Hidup ini punya banyak sekali jenis topeng, seperti emoticon di telepon pintarmu itu.. Atau bahkan lebih ekstrim?
Diantara banyak topeng yang ada, kita bebas memilih topeng mana yang akan kita pakai. Kita bebas menunjukkan siapa kita kepada mereka.
Tapi satu yang tidak bisa kita abaikan, pertanggungjawaban, tebusan atas topeng yang kita pakai.
Selamat mengekspresikan diri :)
#tersenyumlah #kamuberhakbahagia
*bukan pahlawan bertopeng*
Jumat, 22 Januari 2016
Monumen Bantarangin (part 2)
Panas matahari tidak menyurutkan niat saya untuk berjalan-jalan ke Monumen Bantarangin yang terletak di Somoroto, kecamatan Kauman, Ponorogo. Monumen Bantarangin ini dibangun untuk menghormati kerajaan yang pernah berdiri di wilayah tersebut, yaitu Kerajaan Bantarangin yang dipimpin oleh Prabu Klono Sewandono. Berdasarkan legenda, masyarakat percaya bahwa Kerajaan Bantarangin merupakan asal muasal berdirinya Ponorogo.
Semakin menarik minat saya untuk berkunjung setelah mendengar cerita seorang teman bahwa di Monumen Bantarangin yang ini menyimpan banyak misteri. Mungkin ini juga yang menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan luar kota untuk berkunjung menapak tilas sejarah kota kecil ini.
Kamis, 21 Januari 2016
Monumen Bantarangin
Monumen Bantarangin berada di Somoroto, Kecamatan Kauman, Kabupaten Ponorogo. Monumen ini terletak sekitar 8 Km ke arah barat dari pusat kota Ponorogo. Berdiri di sekitar persawahan dan rumah penduduk, monumen ini terlihat seperti pelataran yang memiliki panggung sebagai arena pertunjukan.
Akses jalan menuju Monumen Bantarangin terbilang sudah sangat mudah. Jika dari pusat kota atau Alun-alun Ponorogo, kita berjalan ke arah utara menuju perempatan Tambakbayan. Kemudian belok kiri mengikuiti jalan besar, lurus sekitar 6 Km menuju pasar Somoroto. Dari sini terdapat 2 alternatif jalan, menyibak ramainya pasar Somoroto atau melewati jalan utama.
Reyog Ponorogo
Reyog merupakan seni tradisional asli Ponorogo yang telah menjadi salah satu seni kebanggaan nasional. Terbentuknya Reyog sebagai sebuah seni dilatarbelakangi sejarah menarik dengan nilai-nilai yang dapat dijadikan contoh untuk menjalani kehidupan yang lebih baik.
Terciptanya seni Reyog berawal dari sindiran halus oleh Demang Ki Ageng Kutu Suryongalam kepada Raja Majapahit Prabu Barawijaya V yang belum melaksanakan tugasnya dengan baik. Hal ini digambarkan dengan barongan yang ditunggangi burung merak di atasnya. Burung merak ini melambangkan sang permasuri yang mempengaruhi dan mengendalikan Raja Brawijaya V dalam menjalankan roda pemerintahan.
Senin, 04 Januari 2016
Topeng
cuma mau bilang :
mereka bilang, hidupku selalu enjoy. selalu terlihat senang, bahagia. mereka lihat saya lahir dari keluarga yang berkehidupan mewah, apapun yang saya minta pasti diturutin. alhamdulillah.. terima kasih doa-doanya. :)
seperti kata orang bijak, "orang mudah menilai kita, tapi kita lebih tahu tentang diri kita sendiri dibanding mereka, dan Tuhan lebih tau segalanya."
ya seperti itulah hidup saya. sekuat-kuatnya saya memasang topeng, akan sangat mudah saya melepas topeng itu saat ingat dua orang tersayang bilang, "capek sekali, Na."
ya.
Langganan:
Postingan (Atom)

